Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2008

Digital Fortress


Satu lagi karangan Dan Brown yang mencengangkan. Sebelum saya membahas Digital Fortress, ada satu info yang ingin saya beritahukan. Ternyata DaVinci Code adalah novel keempat dari Dan Brown. Tampaknya, karena novel pertamanya tidak laris (Angel and Demon), Dan Brown memutuskan untuk mengarang sebuah novel yang kontroversial agar namanya dikenal umum. Nah Digital fortress ini sendiri adalah novel kedua Dan Brown. Novel ketiganya berjudul Deception Point.
Kembali ke digital fortress, kisah ini menceritakan tentang NSA (National Security Agent), departemen khusus di USA yang bertugas menerjemahkan semua kode-kode yang beredar di masyarakat dunia, bahkan mereka mampu membuka email setiap orang di dunia. Nah, cerita dimulai ketika NSA memecat seorang anggotanya. Anggota yang marah ini lalu membuat sebuah program keamanan yang saking canggihnya sehingga tidak mungkin bisa dibajak. Sedikit keterangan mengenai program ini. Kalian tahu kan program yang berfungsi untuk crack password? Contohnya ada program Advanced Office Password Recobery, yg bisa mencari password dari file office yg anda buat. Nah, program canggih yg dibuat oleh anggota buangan (aku namakan program A) itu bekerja untuk menipu program pencari password. Jika program pencari password berhasil menemukan password yg dimaksud, maka secara otomatis program A akan mengubah password yang ada menjadi password lain.
Proses itu akan berjalan seterusnya sehingga tidak mungkin program pencari password bisa menemukan password yg dimaksud. Karyawan itu mengancam akan menjual program A ke seluruh dunia, sehingga tidak mungkin NSA bisa membaca email orang lain.

Digital Fortress ini merupakan novel yang lumayan bagus, lebih menyerupai cerita-cerita yang berloncat-loncatan pada awalnya tetapi perlahan menjadi satu kesimpulan yang besar sekali. Terkadang dalam novel tersebut juga diselipkan teka-teki kecil untuk selingan pembaca dan tentu saja menambah sedikit pengetahuan umum. Sedikitnya terdapat 3 setting background dalam cerita ini, yaitu di kantor NSA, Spanyol, dan Jepang. Di mana terdapat sub stage dalam masing-masing background seperti pada kantor NSA yang terbagi menjadi ruangan Crypto/Node 3 yang menceritakan konflik antara Trevor Strathmore, Susan Fletcher, Greg Hale, dan Phil Chartrukian, dengan ruangan Direktur Leland Fointaine dengan dua orang bawahannya, Chad Brinkerhoff dan Midge Milken. Sedangkan untuk setting Spanyol sendiri terjadi dua buah cerita yang masih berhubungan yaitu alur cerita ketika David Becker, sang profesor bahasa dengan Hulohot, si pembunuh bayaran ini terlibat dalam aksi kejar-kejaran, serta dengan alur cerita 2 orang utusan direktur Fontaine yang pada awal penceritaannya tidak disebutkan mengapa mereka berada di sana. Sedangkan pada background negara Jepang, adalah cerita tentang seorang penidiri Numatech Corp, Tokugen Numataka.
Secara perlahan si penulis menggandeng masing-masing stage tersebut untuk mengarah kepada sebuah fakta yang sebelumnya berjalan diiringi dengan tumpang tindih anggapan yang salah yang sengaja ditimbulkan oleh sang penulis. Dengan latar belakang dunia maya dan internet, komentar pada buku ini juga menyebutkan bahwa novel ini merupakan buku wajib para penggemar dunia maya tersebut, tetapi sebenarnya tidak banget-banget tentang dunia maya. Sangat sedikit sekali hal-hal yang bersangkutan dengan jaringan, yang diperkenalkan di sini. Sebenarnya bukan masalah besar, tetapi Dan Brown sepertinya menghindari penjelasan detail untuk menghindari kebosanan yang bisa ditimbulkan kepada para pembacanya, dan Dan Brown memilih untuk mengincar pangsa pasarnya ke area yang lebih besar lagi.
Walaupun sebagian fakta tentang jaringan di sini semuanya benar, tetapi ada yang benar-benar mengganggu jalannya cerita tersebut, yaitu ketika pada akhir cerita, sebuah worm menyerang Bank Data NSA. Si kepala Sys-Sec, Jabba, menggunakan alat yang disebut sebagai VR (Visual Representation) untuk menggambarkan bahwa database mereka sedang diserang oleh hacker-hacker di luar sana. Penggambarannya pun bisa dibayangkan seperti layaknya film-film yang menyertakan teknologi Intrusion Detection System dengan gaya eye-candy,... sebuah lingkaran ditengah... lalu gambar-gambar lingkaran pada lapisan luar sebanyak 5 buah.. dan menghilang/menipis satu demi satu.
Sebenarnya bisa dimaklumi ide ini untuk menyederhanakan jalan cerita bagi banyak orang yang berlatar belakang non-teknis. Tapi tetap saja mengganggu pikiran saya. Hehehe.. jadi saya agak sedikit tidak menikmati waktu itu. Sementara hal lain yang diperkenalkan di sini adalah sebuah alogaritma Bruteforce, anagram yang juga sering muncul dalam novel The Da Vinci Code, prinsip Bergofsky yang belum jelas kebenarannya, karena memang saya belum pernah mendengar hal ini, Worm yang di sini juga sangat mengganggu dalam definisinya, karena dalam novel ini, tokoh Jabba, si kepala Sys-Sec, mengatakan bahwa Worm tidak seperti Virus, karena Worm tidak mereplikasi dirinya sendiri.
Untuk itu silahkan kunjungi web http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_worm untuk perbandingannya, dan masih banyak lagi. Tapi ya sekali lagi... cuma diperkenalkan saja, untuk implementasi yang lebih dalam lagi, tidak ada dalam cerita ini. Ini cuma hiburan. Tapi secara garis besar.. buku ini bagus... cerita yang melibatkan unsur spionase, intrik, penghianatan, cinta yang tercampur dalam kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu, sebuah fakta yang menggambarkan bahwa manusia kadang lebih rendah dari hewan dalam kondisi tertentu. Dan juga dibumbui cerita-cerita soal jaringan komputer yang sedikit agak aneh (kurang riset aja mungkin). Oh ya,... satu lagi.. sepertinya pengalaman si David Becker yang mengadakan perjalanan tugas ke Spanyol kurang lebih adalah menceritakan pengalaman si penulis sendiri, Dan Brown. Itu hanya pemikiran saya saja, karena ternyata Dan Brown adalah lulusan Amherst dengan dua mata kuliah utama bahasa Spanyol dan Inggris. Dan kenyataan lain, initial David Becker adalah sama dengan Dan Brown. Another code to break? Who knows... hehehehehehe...
Bagi Anda yang benar-benar tau soal komputer, kriptografi, dan segala tetek bengek soal IT, siap-siap dengan cerita-cerita aneh yang akan menyebar di sana sini dalam buku ini, maklum, si Dan Brown ini sepertinya tidak ada latar belakang IT/Programmer sama sekali.

Selasa, 22 April 2008

Resensi Diorama Sepasang Al Banna

Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Ari nur

Novel yang kental dengan istilah arsitektur ini (bagaimana tidak, penulis novel ini memang berlatar belakang pendidikan arsitektur, Ari Nur Utami, Teknik Arsitektur, FT UGM), merupakan novel yang menarik, menggunakan istilah2 yang high tech tetapi tidak mengesampingkan unsur dakwah.
Cerita ini diawali dengan pertemuan ryan dan rani disebuah biro arsitek terkenal di jakarta, KAN PETRA.

Rani merupakan salah seorang pelamar yang beruntung bisa diterima bekerja di Kan Petra, dengan menempati posisi drafter digabungkan bersama dengan pelamar lulus lainnya, membentuk satu tim, tim sembilan (siva, dinda, vivi, dena, joy, ganda, irul dan kim). Tim ini dipimpin dan dikoordinir oleh seorang ekksekutif muda Kan Petra yang terkenal jenius tetapi mempunyai sifat yang dingin, tegas, perfeksionis bahkan terkesan angkuh, dialah Ryan. Sebenarnya Ryan pernah menjadi seorang aktifitas dakwah, hanya saja karena sesuatu hal dia futur ditengah jalan, dan kehidupan dilingkungan kerjanya memperburuk kondisi ruhiyah ryan.
Rani yang bekerja dengan idealismenya, tetap mengedepankan dakwah dan nilai2 agama, sedikit banyak mampu mewarnai beberapa teman satu timnya. Konflik muncul ketika Siva, salah seorang teman dekatnya salah paham dengan hubungan Ryan dan Rani. Tetapi konflik ini menjadi pemicu Ryan dan Rani untuk berta'aruf, dan pada akhirnya, dengan menyelesaikan segala pertentangan batin, dan perbedaan status, mereka menikah.

Pernikahan tanpa proses pacaran, menimbulkan cerita menarik tersendiri, joke2 kecil yang terlontar dari sepasang suami istri yang sedang merasakan indahnya pacaran sesudah menikah, membuat kita tersenyum senyum sendiri.
Tetapi kehidupan rumah tangga tidaklah selalu mulus, pernikahan sepasang manusia yang berbeda cara pandang dalam memaknai kehidupan itu (Ryan yang cenderung komersil oriented, dan rani yang berpegang teguh dengan dakwah oriented) menimbulkan riak2 kecil dalam rumah tangga mereka, apalagi ketika mereka mulai mendirikan biro arsitek sendiri "albanna - sang pembangun", perbedaan prinsip semakin mencuat dan semakin jelas kelihatan.

Tetapi mereka sadar, tidak ada yang sempurna didunia ini, mereka mencoba untuk koreksi diri, dan mencoba saling melengkapi satu sama lain. Akhirnya kisah itupun berakhir dengan ending yang membahagiakan.
------------------------------------------the end....^_^..---------------------------------------

hmm….ada satu kalimat ryan di novel ini yang sangat menohok hatiku ketika membacanya, tetapi insya ALLAH menjadi motivasiku untuk selalu memperbaiki diri:

“…….wanita zaman sekarang, begitu pinter.. eeeh akhlaknya ntah kemana, giliran agamanya yang lempeng, bodohnya minta ampun….) hal : 114

dari kata2 ryan berarti ada 4 golongan wanita :
1. yang pinter dan agamanya lempeng
2. yang gak pinter tapi agamanya lempeng
3. yang pinter tapi agamanya gak lempeng
4. yang gak pinter dan agamanya gak lempeng

ya…ALLAH….yang maha penilai..termasuk golongan wanita manakah aku?



Minggu, 20 April 2008

Diorama Sepasang Al Banna #2 : Jodoh




Sedikit cuplikan lagi, dari novel yang sedang aku baca berkali-kali..


Sepucuk surat dari seorang ayah kepada anak yang dikasihinya yang sedang merayakan ulang tahun ke 17

"Selamat Ulang Tahun, Ryan pinter.
Awas, jangan pacaran ya, entar kamu jadi bodoh! Kalau kamu sudah saatnya menikah, pilihlah wanita dari yang cantik, yang pinter, yang kaya, yang turunan ningrat, dan yang baik agamanya, pilihlah yang terakhir. Kau akan bahagia.

Cium Sayang,

Papi Tono."
Hmmm... Pertama baca tulisan ini aku jadi mikir, aku termasuk golongan wanita yang mana yah? Maunya sih yang baik agamanya ;) hehehe tapi ditambah cantik + pinter juga mau doong.. *siapa juga yang gak mauu??

Gak tau ini bener atau gak, karena aku sendiri belum menikah. Tapi baguslah untuk referensi :)

Btw, Al Banna itu artinya "Sang Pembangun". Novel ini kan memang menceritakan tentang sepasang kekasih (suami istri) yang keduanya berprofesi sebagai arsitek, yang erat dengan kegiatan bangun membangun rumah, dll. Dan kemudian membuat perusahaan arsitektur sendiri yang diberi nama "Al Banna". Cocok kan? ;)

Diorama Sepasang Al Banna #1 : Diingatkan kepastian Mati


Baru di balikin lagi nih novel langsung ngebet pengen baca. Pertama-tama baca novel ini sebel, aku merasa "Apa bagusnya novel ini. Plot yang dibuat terkadang terasa loncat-loncat serta pilihan kata yang kurang haluuss membuat pergantian dari suatu kejadian ke suatu kejadian terasa yaah loncat-loncat ;), dan aku teratrik membeli novel ini karna ini novel religi plus novel arsitektur juga.." heheeh

Tapi lama kelamaan aku terhanyut. Sebenernya belum selesai baca buku ini, tapi aku ingin membuat suatu catatan, sebuah tanda untuk sebuah bagian yang aku sukaaa banget... Mengena dan menyentuuh :D hehehe Inilah petikannya..


Sepertiga malam, sesudah tahajud...
[Percakapan antara dua sahabat perempuan]
"Siv..." sapa Rani dengan lembut,"... dalam kehidupan ini, ada kepastian dan ada ketidakpastian.Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, kita tidak tahu bakal dapat tugas apa, itu contoh dari ketidakpastian hidup."

"Dan sesuatu yang paling pasti diantara kepastian itu adalah kematian. Kematian bukan untuk dijadikan bayangan menakutkan dan membekukan langkah-langkah kita dalam menempuh hidup ini. Tapi itulah titik kulmunatif kehidupan, titik tuju sarat konsekuensi. Ketika segala sesuatu yang bersifat materi tak lagi bernilai. Namun, amal-amal kitalah yang akan menjadi teman paling setia dan akan menjadi bekal di yaumul hisab nanti."

"Kita hidup, kita punya cita-cita, kita punya obsesi, bahkan ambisi.Bisa saja melambung tinggi, tak terbatas karena sifatnya yang abstrak. Tapi ingat, ada yang memenggalnya."

Rani meraih telapak tangan Siva, dan kemudian membuat coretan abstrak dengan jarinya. Sebuah garis lurus yang terpenggal oleh komposisi garis berbentuk persegi panjang.

"Rasulullah pernah menggambar seperti ini di tanah dengan ranting. Garis lurus ini menggambarkan hidup kita, cita-cita kita dan kotak ini adalah kematian yang akan memenggalnya."

"Dari Ibnu Mas'ud ra., ia berkata: Nabi SAW membuat gambar empat persegi panjang. Di tengah-tengah ditarik satu garis sampai keluar. Kemudian beliau membuat garis-garis pendek di sebelah garis yang ditengah seraya bersabda: Ini adalah manusia dan empat persegi panjang yang mengelilinginya adalah ajal. Garis yang diluar ini adalah cita-citanya, serta garis yang pendek adalah hambatan-hambatannya. Apabila ia dapat menghadapi hambatan yang satu, maka ia akan menghadapi hambatan-hambatan yang lain. Dan apabila ia menghadapi hambatan yang lain, maka ia akan menghadapi hambatan yang lain lagi.."

Begitulah. Ketika seseorang mengingat kematian, disitulah ia baru memulai kehidupan.
Ambisi, obsesi dan cita-cita terkadang membuat kita terlupa akan mati. Kadang kita merasa apa yang kita dapatkan kini adalah hasil jerih payah kita sendiri... Kita lupa bersyukur dan menyadari bahwa semuanya bukan dan tidak pernah milik kita, semua terjadi karena karunia Allah SWT. Mungkin saking asiknya mengejar mimpi, kita lupa akan "kepastian" yang akan datang kepada kita. Kepastian yang dimana tak satupun orang yang mampu menghindarinya. Kepastian yang akan datang pada setiap diri, yang tidak diketahui kapan waktunya. Namun di lain pihak, kepastian itu bukan untuk dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Melainkan sebagai suatu hal yang memacu agar setiap diri berlomba berbuat kebaikan dan memohon kepada Allah agak sekiranya Ia berkenan.. insya Allah.. Amiin...

Saat kepastian itu kita harus siap. Sudahkah kita menyiapkan bekal yang dibutuhkan untuk hari kembali nanti?


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan"
[QS Ali 'Imran ayat 185]