Sabtu, 15 Januari 2011
Filosofi Seputih dan seharum Bunga Melati.....
dia tak pernah iri dg bunga sekitarnya karna dia kan slalu putih, indah dan mempesona.
kehadirannya memberi kesan tersendiri kala sang mata memandangnya...
karna kecantikkannya dari hati bukan fisik semata.
Bunga melati itu laksana siti fatimah dg keanggunan dan kecantikannya,
Siti aisyah dg kecerdasannya,
Robiatul adawiyah dg keistiqomahan dan sholehahnya
dan SAYYIDAH KHADIJAH RHODIYALLAHU ANHA atas kebijaksanaan dan ketulusannya...
Wahai sang melati mekarlah bersemi di taman sanubari agar terus mewangi dan tetap putih..
(to sahabat2 wanitaku dan untuk wanita2 hebat di sekitarku )
Rabu, 05 November 2008
Especially For Womens...
Sejujurnya, aku sudah sering mendengar teman-teman wanitaku sharing dia menyukai pria ini, pria itu dan entah siapa lagi selanjutnya. Bahkan aku pernah membaca blog seorang wanita yang aku kenal baik, di dalamnya ia menulis bagaimana ia suka dengan seorang pria dan sangat berharap dapat menjadi kekasihnya. Ia merindukan sang arjuna yang belum tentu tahu apa yang ia rasakan. Bagai pungguk merindukan bulan. Kasihan ...
Di usiaku yang sudah menginjak 28 tahun, tentunya aku memiliki banyak teman pria dan wanita yang sebaya denganku. Kalaupun di bawah atau di atas, usianya tidak jauh-jauh dari angka tersebut.
Aku coba untuk merenung, kenapa beberapa bahkan mungkin banyak teman wanitaku atau lebih tepatnya para wanita belum menemukan seorang pria yang bakal menjadi pasangan hidupnya. Padahal setahuku, bagaimanapun minus-nya seorang wanita (kalau ia menganggap dirinya demikian), paling tidak pernah satu kali "ditembak" pria, dengan kalimat ini, "Aku menyukaimu" atau "Bersediakah engkau menjalani hubungan yang lebih serius denganku?".
Kenapa aku bisa begitu yakin? Mari aku ceritakan:
Selama 5 tahun lebih aku bekerja di sebuah rumah produksi yang menayangkan acara Solusi di salah satu stasiun televisi swasta itu, banyak kisah nyata mirip Cinderella yang aku temukan. Ini benar-benar nyata! So real! Bukan sinetron, bukan film.
Sebut saja Maria Beatrix, gadis yang pernah dijuluki "si buruk rupa" dengan bentuk tangan dan kaki yang sama sekali tidak sempurna, menggunakan kursi roda, namun menemukan "pangeran" yang baik hati berdarah Inggris. Pria ini begitu setia mendampinginya bahkan berhasil mengajarinya berenang. Hari ini mungkin mereka sudah menikah.
Ada juga Indrawati, manusia terpendek Indonesia yang pernah masuk MURI karena bisa melahirkan dengan normal. Kalau melihat bentuk fisiknya, sangat tidak sempurna, namun menemukan seorang suami dari kalangan terhormat dan sangat mencintainya dengan sepenuh hati.
Di Bandung, kami juga memiliki narasumber si pelukis Patricia Saerang, seorang yang melukis dengan kakinya atau mulutnya karena tidak memiliki tangan. Namun menemukan pria berdarah Eropa yang sangat mencintainya. Hari ini mereka sudah menikah dan hidup bahagia.
Jadi, kalau mau banding-bandingan dengan wanita-wanita yang aku sebutkan diatas, bagaimana mungkin kalau teman-teman wanita ku itu belum bisa menemukan "sang pangeran cinta" ? Kalau mau banding-bandingan, teman-teman wanitaku itu tergolong wanita yang cantik, dengan fisik yang nyaris sempurna dan memiliki pekerjaan yang bagus. Setelah aku analisa, inilah inti permasalahannya:
Ternyata banyak wanita tidak tahu kuncinya. Untuk membuka baut ukuran 12, kita harus menggunakan kunci ring atau kunci pas dengan ukuran yang sama, 12. Sebut saja hal apa lagi yang lain sebagai perumpamaan. Dari zaman Adam dan Hawa sampai sekarang, wanita memang didesain untuk tidak memulai terlebih dahulu dalam hal cinta.
Ekstrimnya, wanita dilarang jatuh cinta terlebih dahulu dan mengejar-ngejar pria. Karena wanita memang tidak di desain untuk itu. Perihal ada budaya di daerah tertentu dimana pria di lamar oleh wanita, aku sangat tidak berminat membahasnya. Dan sampai hari aku masih menganggapnya sebuah keanehan. Aneh! Namun aku menghormatinya.
Aku suka kata-kata ini: Laki - laki menang milih, perempuan menang nolak! Kedengarannya win-win solution. Ya - bisa begitu. Laki-laki memang bisa memilih wanita mana saja yang dia suka. Laki-laki bisa saja jatuh cinta dengan wanita mana saja yang hatinya memang "jatuh". Toh, sampai hari ini jumlah Wanita di dunia ini jauh lebih banyak dari Laki-laki.
Laki-laki kalau nembak Wanita ditolak, respon selanjutnya ada dua, pertama: mencoba lagi untuk kedua, ketiga, keempat, atau kesekian kalinya atau kedua, tidak melanjutkan dan berkelana mencari yang lain lagi. Toh, jumlah wanita jauh lebih banyak dari pria. Dan harga diri seorang pria tidak akan turun dan tercabik-cabik hanya karena cintanya ditolak. Karena pria seorang pejuang sejati, dia pasti akan mencoba dan mencoba lagi. Sampai dapat! "Emang cewek elo doang?" . Pikiran seperti itu ada kadang di sana .
Tetapi kalau wanita begitu agresif terhadap pria, lalu kemudian ditolak hehhee $B!!(B.. Jawab sendiri kata yang tepat untuk itu.
Pria dan wanita sama-sama didesain untuk menjadi pemenang. Menang! Laki-laki menang milih, Perempuan menang nolak. Masalahnya sekarang banyak wanita yang mencoba untuk merubahnya menjadi: Perempuan menang milih. Jadi kalau Perempuan menang milih maka berarti Laki-laki menang nolak!
Bagi para Laki - laki, kalau ditolak adalah hal yang biasa. Memang sedih untuk sesaat. Tapi tidak untuk meratapinya. Lagipula Laki-laki didesain lebih banyak "bermain" pikiran, daripada perasaan. Masalahnya, apakah para wanita siap kalau ditolak Laki-laki setelah "menang" milih Laki-laki yang mana aja?
Untuk menjawab pertanyaan ini, aku mau membagikan hal ini kepada para wanita, khususnya.
Paling tidak ada dua wanita yang paling dekat denganku, yang aku ketahui sangat bahagia. Pertama adalah ibuku sendiri. Ya, mama. Ibuku melepaskan masa gadisnya ketika usianya 23 tahun, dilamar ayahku, seorang pria tampan berumur 32 tahun dengan tubuh proposional.
Ketika pertama kali bertemu ibuku, ayahku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Padahal saat itu, seorang wanita sedang tergila-gila kepadanya dan menjadi begitu agresif. Ia ingin memiliki ayahku. Tetapi sebenarnya pria tidak bisa berdusta, dan jarang berpura-pura. Ayahku tidak mencintainya. Namun wanita itu memaksanya. Ayahku pria sejati yang harus selalu memulai dan tidak bisa didahului seperti itu. Kepada ibukulah, ayahku jatuh cinta. Mereka menikah pada tahun 1978. Ayahku berkali-kali jatuh cinta dengan wanita yang sama, yaitu ibuku.
Usia pernikahan mereka sudah 29 tahun dan perkawinan mereka bertambah kuat dari hari ke hari. Aku pikir, ibuku adalah wanita yang paling bahagia di bumi ini karena dia tahu kuncinya. Dia dicintai dan diperlakukan bak ratu.
Kemudian yang kedua, saudaraku satu-satunya. Adik perempuanku yang manis itu. Di usianya yang 26 tahun seorang pria yang sangat mencintainya dan telah setia menunggunya selama 6 tahun, menyatakan keinginannya untuk menghabiskan waktunya nanti bersamanya. Meskipun enam tahun yang lalu, adikku tidak meresponinya, namun akhirnya ia luluh juga. Kali ini adikku tahu kuncinya: bahwa wanita didesain untuk DICINTAI dan bukan memulai untuk mencintai.
Sebelumnya, aku tahu adikku berharap dapat menjalani hubungan dengan seorang pria gagah dari angkatan laut. Namun pria itu ternyata tidak sepenuh hati mencintainya. Ia sadar, bahwa ia harus melupakan pria itu dan memberi kesempatan untuk yang lain. Hari ini adikku, diperlakukan bak ratu oleh kekasihnya. Begitu dicintai, dilindungi, diperhatikan dan hubungan mereka semakin menunjukkan kualitas yang semakin baik, hari ke hari.
Aku pikir, adikku wanita yang paling bahagia saat ini. Karena seorang pria datang kepadanya dan mencintainya dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa.
Sebaliknya, aku menemukan ada wanita yang memulai terlebih dahulu, begitu agresif dan sangat mencintai seorang pria dan akhirnya memang mendapatkannya dan bahkan menikah dengannya. Namun sayang, sesungguhnya dia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya. Karena suaminya punya cinta yang lain. Dan wanita itu harus membayar harganya. Sangat mahal. Ia harus berkorban selama perkawinannya berlangsung. Ia harus berkorban materi yang terus-menerus dan yang paling menyedihkan selalu korban perasaan.
Padahal bukankah seharusnya suaminya yang memenuhi kebutuhan materinya? Muka mereka menjadi begitu kusut dan tubuh mereka menjadi begitu kering. Karena tidak 'disirami' cinta suaminya. Karena sekali lagi, suaminya punya cinta yang lain.
Para wanita, daripada engkau mencintai pria yang tidak mencintaimu, atau hanya sekedar berpura-pura mencintaimu, mengapa engkau tidak belajar mencintai pria yang sangat mencintaimu dan memperlakukanmu dengan begitu berharga? Mungkin awalnya engkau tidak begitu menyukainya. Namun jika mengingat bahwa ia begitu mencintaimu, mengapa wanita tidak mencoba untuk BELAJAR mencintainya dan memberinya kesempatan.
Percayalah bahwa dalam kamus pria tidak ada istilah BELAJAR mencintai. Mau wanita yang ditujunya seperti apa, mau gemuk, mau pendek, mau rada tulalit atau sebut saja kekurangan lainnya, percayalah bahwa pria adalah makhluk yang jatuh cinta, bukan belajar untuk mencintai. Tetapi, wanita bisa BELAJAR mencintai.
Tatkala melihat kegigihan seorang pria yang tidak pernah berhenti menaklukkan hatinya, tatkala melihat pengorbanan, perhatian dan kasih sayang yang diberikan, aku mendengar banyak kesaksian akhirnya wanita menyerah.
Berdasarkan apa yang aku lihat, bahkan aku mengadakan riset untuk hal ini, wanita yang bijak adalah wanita yang jatuh cinta dengan pria yang terlebih dahulu jatuh cinta kepadanya. Bukan jatuh cinta dengan pria yang pura-pura jatuh cintanya kepadanya.
Bagi pria, Anda dilarang untuk berpura-pura jatuh cinta. Karena setelah engkau menjalaninya, lama-lama pura-pura itu akan hilang dan engkau pasti akan berkelana mencari cinta yang lain. Bukan yang pura-pura. Karena bagaimanapun engkau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.
Kalau aku mencoba untuk pura-pura mencintai wanita yang pernah sangat mencintaiku, mungkin hari ini aku sudah memiliki anak dengannya dan sudah menjadi orang kaya secara materi. Tetapi aku pasti membuatnya menderita karena kepura-puraan itu. Aku akan berkelana mencari cinta yang lain. Dan itu sangat menyakitkan. Karena hubungan itu sudah sampai kepada pernikahan, mau tidak mau kita harus tetap meneruskannya, kalau tidak mau anak-anak yang menjadi korban perceraian. Namun harganya terlalu mahal untuk dibayar.
Para pria tidak dibenarkan untuk menjadi begitu brengsek dan memanfaatkan wanita yang jatuh cinta kepadanya, sementara itu sendiri punya cinta yang lain. Para pria tidak dibenarkan menjadi begitu bejat untuk memanfaatkan uang, fasilitas dan materi yang diberikan oleh wanita yang mencintainya, dengan harapan bisa mendapatkan cinta sang pria. Itu pria yang licik dan pengecut.
Untuk para wanita, mungkin kalian gelisah di usia yang hampir menginjak kepala tiga belum menemukan pasangan sejati. Mungkin ia sudah datang, tetapi Anda datang, tetapi Anda menolaknya. Karena memang anda didesain untuk "menang nolak".
Tetapi mungkin saja anda lupa kuncinya. Kuncinya adalah anda sebaiknya jangan memulai terlebih dahulu dan kalau sulit menjangkaunya, anda menjadi begitu agresif. Anda harus tahu kuncinya bahwa anda didesain untuk dicintai dan diperlakukan bak ratu. Bukan menjadi seorang yang mengejar-ngejar pria.
Berulang kali kukatakan kepada teman-teman wanitaku. "Kalau ada seorang pria yang datang kepada kalian dan menyatakan cintanya, berpikirlah dua kali untuk menolaknya." Jangan sampai anda menyesal di kemudian hari.
Aku tidak menyarankan kalian untuk terburu-buru menjawab, "Ya". Aku hanya mengatakan, "Berpikir dua kali terlebih dahulu untuk menolaknya." Siapa tahu, ini cinta sejatimu?
Wanita, anda begitu berharga. Ciptaan terindah. Anda ditentukan untuk begitu dicintai, dikagumi, dilindungi, dikasihi, diperhatikan, diayomi dan aku tidak tahu harus menyebutnya apa lagi .. ; Kalian ditentukan untuk diperlakukan bak ratu setiap hari.
Karena manusia ditentukan untuk hidup berpasang-pasangan, hai para wanita, bersiap-siaplah seorang pangeran cinta datang kepadamu, menyatakan betapa ia ingin menghabiskan waktunya bersamamu, dan memberikan seluruh cintanya kepadamu. Namun, ketika pangeran cinta itu datang, apakah engkau akan langsung menolaknya? Atau "berpikirlah dua kali untuk berkata 'tidak'", karena siapa tahu ini orang yang akan memperlakukanmu bak ratu. Tidak peduli bentuk fisikmu, tidak peduli tingkat pendidikanmu bahkan tidak peduli masa lalumu. Ia akan datang dengan kata-kata ini, "Aku mencintaimu walaupun - ."
Tulisan ini aku dedikasikan untuk para wanita - Ciptaan Terindah
Selasa, 15 April 2008
Spesial For Muslim: Menikahlah Jika Semua Syarat Sudah Tercukupi!
Wahai Muslim. Jangan terlalu pilah – pilih. Jika agama muslimah itu baik, maka segeralah persunting Muslimah itu agar tak diambil oleh yang lain. Tiada kebahagiaan lagi bagi para muslim selain istri yang sholehah.
Jangan seperti sahabat saya, masih belum menikah karena mencari muslimah sholehah yang wajahnya cantik. Ya, sulit deh. Padahal umurnya sudah diatas 30-an. Gitu deh, dia pilah – pilih mencari istri yang belibet. Harus sholehah dan cantik. Memang sih ada, tapi, terkadang sulit mencarinya. Jadi, patokan cantik agamanya adalah prioritas (baca:harusnya).
Jadi, jika anda neko – neko mencari calon istri, maka, bersiap – siaplah berlama – lama untuk membujang. Ya, jadi bujangan tua deh! Nggak mau kan? Makanya, buruan, menikah jika semua syarat – syarat utama sudah terpenuhi.
Jilbab Lebar dan Panjang Bukan Hanya Milik Segelintir Muslimah!
“Kenapa ya, Muslimah yang lain nggak mau pakai jilbab lebar dan panjang?” kata si A disela – sela dialognya ketika berkumpul dengan sahabat lainnya.
Si B menjawab, “Masalahnya saat ini, jika seorang muslimah memakai jilbab lebar dan panjang. Mereka sudah bisa dikenal identitas bahwa dia (baca: Muslimah) tersebut berasal dari pergerakan atau harokah ISLAM: X, Y, Z. dll.”
Mendengar cerita itu, saya jadi tertarik menuliskan dalam blog saya ini. Siapa tahu, ada Muslimah (baca: belum berjilbab lebar dan panjang) yang membaca tulisan saya ini.
Duhai saudariku, jilbab lebar dan panjang (baca: jilbab yang menutup dan tidak menampakkan aurat wanita meskipun hanya sebuah lekukan pada tubuhnya) bukan hanya milik segelintir orang. Jilbab lebar dan panjang itu adalah milik semua Muslimah yang kakinya masih menginjak di bumi ini. Muslimah yang taat pada Syari’at ALLAH SWT. Jadi, jangan takut menggunakan jilbab panjang dan lebar karena itu perintah ALLAH SWT dan Rasul-NYA. Jadi, ber-azzam-lah untuk memakai jilbab yang disyari’atkan mulai saat ini. Amin.
Andakah Tujuh Golongan Yang Selamat di Mahsyar itu?
Alhamdulillah. Allahumma sholli ‘ala Muhammad. Amma ba’d.
Duhai diriku..
Duhai ummat manusia..
Apakah kita termasuk tujuh golongan yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim?
[Ya Allah, jadikan Hamba salah satunya. Bahkan Hamba akan berusaha untuk menjadi manusia yang masuk kedalam tujuh kelompok itu. Bimbing Hamba untuk menjadi tujuh orang itu, Ya Allah. Insya Allah, Amin.]
Ketika itu, Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah SWT dalam naungan-NYA pada hari yang tiada naungan selain naungan-NYA (di hari Mahsyar). Mereka adalah imam (pemimpin) yang adil. Pemuda yang hidupnya dipenuhi dengan beribadah kepada Allah SWT. Orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Dua orang yang saling mencintai karena Allah SWT, keduanya berkumpul karena Allah SWT dan berpisah karena-NYA. Laki – laki yang dirayu wanita cantik dan terpandang (untuk berzina dengannya) dan ia menolaknya seraya berkata , ‘Sesungguhnya aku takut Allah SWT.’ Dan orang – orang yang bersedekah secara sembunyi – sembunyi sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya. Dan orang yang khusyu berdzikir kepada Allah SWT lalu bercucuran air matanya.”
[HR Bukhori No. 620 dan HR Muslim No. 1712]
Membaca kabar ini. Apa yang akan kita lakukan? Ayo, perbaiki diri kita. Mendekatlah kepada Allah SWT dengan ilmu yang mengokohkan iman dan diaplikasikan dengan amal perbuatan. Apakah kita termasuk dalam tujuh golongan diatas? [ayo, tanyalah diri kita].
Oh diriku, semangatlah dalam ber-islam yang benar. Karena perjalanan-mu masih panjang. Di depan sana, masih ada era kehidupan yang sangat panjang. Bahkan sangat panjang…panjang…panjang…panjang dan panjang. Persiapkan bekal yang banyak untuk mengarungi perjalanan-mu. Selamatkan diri-mu dan keluarga-mu dari kebinasaan di hari esok.
Ayo diri-ku. Paculah dirimu untuk memahami islam dengan benar. Seperti islam yang difahami oleh Nabi-mu, Muhammad SAW. Yang juga difahami oleh sahabat – sahabat Nabi, dan pemahaman para generasi terbaik di era dulu.
Diri-ku, jangan menyerah. Jika kau bersungguh – sungguh untuk memahami islam, maka Allah SWT akan membantu-mu, insya Allah. Amin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh
Perokok = Bodoh atau Tidak Tahu?
Kenapa anda merokok? Mohon dijawab secara ilmiah jika memang rokok dapat menyehatkan anda.
Maaf, apa anda tidak mengerti tulisan kecil disetiap iklan atau bungkus rokok?
Merokok dapat menyebabkan A sampai Z. Lalu, kenapa anda masih merokok juga? Bukankah hanya orang bodoh saja yang ingin menyakiti dirinya sendiri.
Jika memang anda tidak tahu bahaya merokok, tanyalah kepada orang pintar disekitar anda soal bahaya rokok.
Jadi, hemat saya, sisihkan uang anda untuk mecerdaskan insan dan mensejahterakan manusia di sekitar kita.
Maaf ya...
Salam ukhuwah bagi para perokok yang mau berubah untuk tidak merokok,
Kamis, 03 April 2008
Kenapa Ikhwan “Enggan” Menikah?
Mereka menanti dengan gundah. Mempertebal kesabaran. Memperbaiki diri. Berdoa. Bahkan mengajukan “proposal kesiapan” pada sang murobbi. Namun, apa mau dikata, jodoh yang dinanti tak jua kunjung datang.
Merunut pada satu atau dua dekade lalu, pernikahan di antara ikhwan dan akhwat tampak begitu mudah terwujud. Sebentuk kemauan seolah cukup untuk dirangkai menjadi tekad bulat. Lewat murobbi atau perantaraan teman sendiri, satu demi satu pasangan muda mantap mengarungi bahtera rumah tangga.
Masih kuliah, atau sudah sarjana, sudah bekerja atau baru merintis usaha, Batak-Sunda atau Padang-Madura, UI-LIPIA atau Sarjana-SMA, tidak begitu menjadi soal. Bahkan kerut kening orangtua yang awalnya ragu mampu diatasi dengan pembuktian kemampuan diri dan sebentuk keyakinan yang sudah mengurat akar: Menikah adalah sebuah ibadah, penguatan dakwah, dan sunnah Rasulullah. Untuk apa menunda-nundanya?
Namun kini, dunia telah berubah. Jumlah lajang ikhwan dan akhwat ditengarai semakin banyak namun herannya soal pernikahan tak lantas menjadi semakin marak.
Bila diingat bahwa sebagian besar akhwat masih menjadi pihak yang menanti datangnya jodoh, dan dibatasi oleh “jam biologis” yang cukup ketat mengikat, pertanyaan pun akhirnya disampirkan pada kaum ikhwan yang ditengarai semakin betah berlama-lama melajang. Mengapa akhi?
Penurunan kematangan tarbiyah
Memasuki gerbang pernikahan memang bukan sekedar membutuhkan tindakan menikah, tetapi juga mindset—semacam keyakinan—yang jelas untuk siap menikah. Ustadz Amang Syafrudin, Lc, menjelaskan, agaknya soal mindset inilah yang sedikit banyak tengah mengalami perubahan.
“Pada tahun-tahun yang sudah berlalu dulu, mindset pernikahan di kalangan ikhwan lebih didasari oleh kematangan tarbiyah mereka yang pada akhirnya juga mempengaruhi kematangan kepribadian mereka.”
Kematangan tarbiyah ini, yang oleh Ustadz Amang disebutkan bisa didapat melalui tarbiyah dzatiyah (proses pembelajaran secara individual) ataupun lewat mekanisme tarbiyah di masyarakat semacam majelis ta’lim atau aneka pengajian, memang diketahui mampu mengasah pribadi-pribadi muslim untuk memiliki pemahaman yang mendalam dan keyakinan yang mengakar soal pernikahan.
“Bahwa menikah adalah sebuah ibadah, sunnah Rasul, jalan untuk memelihara kesucian diri, sarana membangun stabilitas diri, mengasah tanggung jawab dan akan mematangkan proses pendewasaan dirinya benar-benar dipahami dan diyakini dengan kuat, sehingga bimbingan Allah, liddiniha benar-benar dijadikan ukuran utama untuk menyegerakan pernikahan.”
Namun, Amang menilai, saat ini, kematangan tarbiyah telah menurun pada banyak ikhwah. Keyakinan dan pemahaman akan keutamaan bersegera menikah tidak lagi mengemuka. Ditambah lagi, aspek kehidupan pragmatis nyatanya telah mengalihkan mindset pernikahan ini pada ukuran-ukuran lingkungan.
“Masalah-masalah nikah memang jadi kurang disinggung apalagi dibahas mendalam dalam berbagai pengajian. Tambahan pula, era kehidupan yang semakin terbuka telah meningkatkan kebutuhan-kebutuhan kita pada masalah-masalah sosial, ekonomi, hingga politik telah menyita pemikiran kita. Semakin terpinggirkanlah urusan-urusan nikah ini dari mindset kita, karena yang asyik mengejar sisi ekonomi, sampai “lupa” menikah. Yang asyik mengurusi soal politik, juga bisa “lupa” menikah,” papar lulusan LIPIA ini lagi.
Industrialisasi dan pragmatisme
Senada dengan Amang, psikolog Indra Sakti juga menyoal kondisi lingkungan yang mempengaruhi perubahan pola pikir dan perilaku banyak orang soal nikah.
“Ada kemungkinan, dinamika sosial budaya masyarakat, termasuk soal industrialisasi, mempengaruhi perilaku menikah individu-individunya,” kata psikolog lulusan Universitas Indonesia ini membuka wacana. “Sebab, kalau kita lihat, usia menikah seseorang semakin “tua” pada masa kini. Dulu, tahun 70-an misalnya, belum menikah di usia 20-an itu sudah tergolong “terlambat”, tetapi sekarang, melajang di atas usia 30 pun masih terhitung biasa-biasa saja.”
Padahal, papar Indra, dalam hidupnya, manusia tetap memiliki tugas-tugas perkembangan kemanusiaan yang tak berubah. Yaitu fase-fase perkembangan diri yang pada setiap tahapnya memiliki aktivitas utama yang harus dijalani dan amat berguna untuk proses penapakan hidup selanjutnya.
Bila ada satu tugas perkembangan hidup yang terlewat, tentu dia akan kesulitan menapaki proses selanjutnya. Misalnya, pada usia 20 hingga 30-an, umumnya manusia tengah berada dalam fase dewasa dengan aktivitas utama mencari dan menemukan pasangan hidup, menikah, serta menjalani berbagai hal terkait persoalan tersebut. Sementara menjelang 40 tahun mereka mulai memasuki fase menemukan filosofi hidup, pemaknaan, dan pemantapan arah hidup.
“Tetapi, kalau sampai usia 30-an masih saja belum memasuki keseriusan mencari dan menemukan pasangan hidup, atau menjadi orangtua, dapat dikatakan, orang ini akan menjadi pribadi yang tidak utuh dalam menapaki proses hidup selanjutnya, karena ada sesuatu yang hilang dalam dari kepribadiannya,” urai ayah empat anak yang menikah saat masih kuliah ini.
Tak heran, lanjut Indra, orang-orang yang betah menjomblo hingga, katakanlah usia 35 tahun, cenderung senang dengan perilaku-perilaku nge-dugem, mengisi waktu untuk saat itu saja. Berpikiran pendek, karena memang kehilangan orientasi jangka panjang.
“Kepribadian tak utuh memang akan berdampak pada munculnya kekosongan hidup, hampa, tidak bermakna, punya kecemasan, hingga loneliness, kesepian pada diri seseorang.”
Tapi sayangnya, sebagaimana dijelaskan Amang dan Indra, industrialisasi atau pragmatisme hidup agaknya memang telah memundurkan semangat menyegerakan pernikahan.
Syarat dan pilihan
Memang sih, usia menikah tidak bisa diukur sama rata, tergantung kematangan dan kesiapan diri. Batas awal usia menikah yang dianggap umum pada tiap kultur masyarakat pun berbeda. Ada yang dimulai pada usia belasan tahun, ada yang dua puluh tahunan.
Tetapi, jelas Indra Sakti, batas akhirnya cenderung sama, yaitu pada akhir 30-an, karena bila dilihat dari tugas perkembangan manusia, usia menjelang 40 tahun ini seseorang sudah mulai memasuki fase menemukan hakikat hidup, pemaknaan akan tujuan hidup, arah hidup dan sejenisnya.
Kalau begitu, bagaimana bila sesosok ikhwan—meski sudah memasuki usia umum menikah—masih betah menjomblo karena punya alasan khusus berkaitan dengan syarat atau pilihan yang belum pas? Belum ketemu calon yang cocok misalnya, atau belum mapan secara ekonomi?
“Punya syarat dan pilihan ya sah-sah saja, seperti misalnya ingin calon isteri yang berprofesi dokter. Boleh-boleh saja kok,” kata Ustadz Amang.
Tetapi, lelaki kelahiran Sukabumi 43 tahun lalu ini lantas menambahkan, setiap syarat atau pilihan itu jangan sampai menjadi hambatan yang menyulitkan diri karena mempersulit diri justru dilarang dalam Islam.
“Akhwat dokter kan tidak banyak, dari yang ada pun pasti punya pilihan juga. Jadi, jangan sampai menikah terhambat gara-gara bersikeras ingin mendapat calon berprofesi dokter. Selain tidak syar’i, suasananya (pencariannya—red) juga jadi tidak balance kan?” tegas Amang.
Sementara soal kemapanan, Ketua Yayasan Al-Qudwah Depok ini mengingatkan para ikhwah untuk semakin meyakini janji Allah dalam memberi kecukupan rezeki pada mereka yang mau menikah (AnNur:32)
“Kita memang bisa cari rezeki dengan menikah. Sebab, dengan menikah, seseorang itu kan dirangsang untuk bertanggungjawab. Maka menikah benar-benar bisa menjadi stimulan yang sangat kuat bagi seorang ikhwan untuk mencari nafkah, memenuhi tanggung jawabnya.”
Sedikit berbeda, Indra Sakti menyebut bahwa soal ketidaksiapan ekonomi umumnya hanya sekedar menjadi “kambing hitam”. “Saya mendapati, keengganan atau betahnya seorang ikhwan menjomblo sebenarnya lebih dikarenakan keengganannya untuk bertanggung jawab,” ungkapnya.
Berdasarkan pengalamannya sebagai psikolog, Indra lantas menyebut, keengganan menikah pihak lelaki dalam menikah umumnya terdiri atas tiga alasan besar; pertama karena dia tidak betul-betul meyakini tipe mana yang cocok buat dia sehingga selalu saja melihat calon yang ditawarkan sebagai tidak cocok.
Kedua, keraguan untuk bertanggungjawab terhadap orang lain. Dan ketiga ketiadaan kemandirian secara sosial. Sebagai contoh, ada sosok yang walau sudah kerja, sudah sarjana, tetapi nyatanya sangat tergantung pada orangtua.
Maka, demi menghindarkan diri dari alasan-alasan yang sesungguhnya berpangkal pada persoalan kepribadian sendiri, mulai sekarang, asahlah diri agar semakin matang dan tidak ragu-ragu lagi untuk menikah. Wallahu a’lam.
—dari : majalan UMMI, edisi Juni 2007—
Teruntuk para Ikhwan yG 'Enggan' Menikah.. ;-)
Selasa, 26 Februari 2008
Menenun Jalinan Cinta
Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang memandang
Pada debu yang pasti kan hinggap
The Zikr: Suci Sekeping Hati
Harapan tanpa iman
Adalah kekecewaan yang menunggu waktu
Kebahagiaan tanpa barakah
Bagai bayang-bayang tanpa cahaya
Orang suci,
Menjaga kesuciannya dengan pernikahan
Menjaga pernikahannya dengan kesucian
Bukan Terminal Perhentian
Menikah adalah keindahan, kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Rumah tangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tak bermakna. Menikah, dakwah, dan jihad adalah seiring sejalan, kecuali bagi orang-orang yg terkacaukan logika dan nalarnya. Menikah adalah bagian dari dua hal ini, kecuali bagi yang memandangnya sbg buah yg dipetik or rehat yg diambil setlah lama menjadi aktivis bujang.
Amat heran saya mendengar kata-kata yg dipakai sbg alas an untuk menunda pernikahan. “Akhi..”, dg penuh lembut seorang ikhwan pernah berkata, “Saya kira antum berbicara ttg pernikahan bkn dg org yg tepat. Saya ingin menikah, insya Allah nanti, stlah mengoptimalkan produktivitas dakwah saya. Ada banyak hal yg belum saya lakukan. Kontribusi da’wah saya masih terlalu kecil. Saya masih jauh dr kualifikasi pemuda yg digambarkan sbg jundi da’wah. Apa kita ngga malu, bahwa yg kita bicarakan pernikahan, pernikahan, dan pernikahan? Lihatlah pemuda-pemuda spt Usamah ibn Zaid yg menjadi panglima besar di usia 18 tahun. Lihatlah Mush’ab ibn ‘Umair yg di usia duapuluhan menjadi duta untuk membuka da’wah di Madinah. Lihatlah Ali ibn Abi Thalib..”
Allahu Akbar! Secara pribadi, saya terkagum pada ghirah da’wah beliau yg setegar gunung dan sekukuh karang. Semoga Allah menguatkannya selalu. Hanya saja, saya menganggap bahwa cara berfikir beliau ini berbahaya. Mungkin saya subjektif. Tetapi tersirat dlm kalimat beliau, seolah ada pertentangan antara produktivitas da’wah dg pernikahan. Sepertinya kalau sudah menikah maka kita tidak bisa meneladani Usamah, Mush’ab, ‘Ali. Sepertinya sesudah menikah, tidak termungkinkan untuk menjadi aktivis dg kemuliaan sbagaimana ketika kita blm menikah. Seolah-olah, puncak prestasi da’wah selalu kita raih sebelum kita menikah.
Dalam pengamatan saya, cara berfikir ini bermula dari persepsi bahwa ‘menikah dengan seorang akhwat yg shalihah adalah buah dari da’wah’. Pernikahan dipersepsikan sebagai salah satu terminal perhentian, tempat memetik manfaat. Pernikahan tdk dianggap sbagai bagian dr da’wah. Pernikahan tdk dianggap sbg episode tempat dua org saling menguatkan untuk lebih berkontribusi dan ‘berprestasi’ dlm da’wah.. seakan pernikahan adalah episode baru yang –kasarnya- menjadi tujuan dari da’wahnya slama ini. Sekali berarti sudah itu mati, kata Chairil Anwar.
Syukurlah argument yg beliau bangun skaligus menolak cara berfikir beliau. Kok bisa? Iya. Beliau, -‘afwan, saya jadi sok tahu- kurang lengkap mengutip sirah shahabat. Sefaham kita, sebelum menjadi panglima di usia 18 tahun, Usamah ibn Zaid tlah menikah dg Fathimah binti Qais di usia 16 tahun. Sebelum menjadi duta ke Madinah, Mush’ab ibn ‘Umair Al-khair telah menikah dg Hamnah binti Jahsy. Dan sebelum mengambil peran-peran besar di sisi Rasulullah, ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallaahu ‘Anhu telah menjadi menantu beliau. Mereka tlah berjibaku memimpin keluarga, sebelum sukses memimpin da’wah.
Nah, mari kita bersedih ketika pernikahan memutus keterlibatan saudara-saudara kita dr da’wah. Mari kita bersedih ketika pernikahan menumpulkan. Mari menitikkan air mata jika dg menikah orang terhalang untuk menjadi Usamah, Mush’ab, dan ‘Ali. Mari kita menangis di hadapan Allah jika pernikahan telah melenakan manusia dr tugas agung untuk berda’wah dan berjihad di jalanNya. Jika demikian, dimanakah barakah yg sdh seharusnya kita raih?
‘Ala kulli haal, segalanya bermula dr bagaimana cara kita mempersepsikan pernikahan. Pernikahan disebut sbagai separuh agama, karena ianya adalah masalah ‘aqidah. Masalah bagaimana kita berpersepsi terhadap Allah, diri kita, dan pernikahan itu sendiri. Dan pernikahan juga disebut separuh agama, karena tanpa istri di sisi, banyak perintah Allah di dalam Al-qur’an blm akan terasa maknanya.
Semoga pemahaman ini menjadi awal dr bertambahnya barakah dlm pernikahan kita, terutama dlm sisi produktivitas amal dan jihad dijalanNya. Sungguh pernikahan adalah bagian dr dua hal ini, maka jgn pernah memandangnya sbg buah yg akan kita petik dan rehat yg akan kita lakukan atas da’wah kita selama ini. Rehatlah nanti, ketika kaki kita melangkah dan memijak ke surga Allah.
Salim A. Fillah dalam buku “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”
Minggu, 17 Februari 2008
Laki-laki dan Perempuan Itu Berbeda
Lomba dimulai. Kami berdua mengenakan seragam balap yg disediakan oleh pengelola, yg kita sendiri tdk mengerti kenapa kami harus memakainya. Begitu bendera berkibar, saya injak pedal gas sekeras-kerasnya, dan melesatlah gokart kami bersama ketujuh gokart yg lain.
Pesaing saya ternyata tdk main-main. Gaya ngebutnya di sirkuit menjadi sangat ganas. Seketika saya berpikir, begitulah kaum laki-laki ketika gengsinya dipertaruhkan. Saya pun tidak mau kalah. Di sebelah saya ada adik tersayang. "Masa kakaknya yg gagah ini di kalahkan di depan matanya?" pikir saya. Pedal gas kami pun menjadi korban, harus diinjak dg kekuatan penuh. Mesin gokart kami menjerit keras dan mengejar gokart depan. Sorak sorai supporter kami sempat terdengar di balik helm pinjaman ini.
Tiba-tiba, di sebuah tikungan, gokart di depan kami memotong jalan secara tajam. Saya terkejut. Menginjak rem atau menghindar? Kalau menginjak rem kami akan tertinggal. Saya memutuskan untuk menghindar tanpa menginjak rem. Terjadilah sesuatu yg membuat kami tahu kegunaan dr seragam ini. Gokart kami keluar dr lintasan. Seandainya kami tdk memakai seragam balap itu, tentu baju kami sudah berubah warna karena terpaan tanah dan pasir dari luar lintasan. Saya merasa sangat marah. Tindakan memotong jalur seperti itu sungguh berbahaya. Saya lupa bahwa sayalah yg mengambil keputusan untuk tdk menginjak rem.
Tanpa pikir panjang, saya menginjak pedal gas saya dalam2. Beruntung gokart ini masih mau bergerak. Setelah kembali ke lintasan, saya tidak ragu lagi menginjak habis pedal gas. Kalau mereka mengira hanya karena memotong jalan itu akan membuat kami ketakutan dan berhenti, mereka salah besar!. Tidak mengendorkan pijakan pedal gas yg terinjak habis, mungkin merupakan tindakan tidak bijaksana. Tetapi dimanapun, balap merupakan lomba yg tidak bijaksana. Hasilnya tidak buruk, paling tidak kami sudah tidak berada di posisi juru kunci akibat mannuver nekat di tikungan.
Tikungan demi tikungan berhasil kami lewati. Saudara-saudara dan beberapa penonton sudah mulai berdiri dr tempat duduknya. Si tinggi besar sekarang sudah berada di depan hidung gokart kami. Di putaran terakhir jika tidak berhasil mendahuluinya, kami akan kalah, dan saya sungguh tidak suka. Pedal gas yg mulai kendor itu saya injak lagi dg keras. Mesin gokart menderu dg keras, dan mulailah manuver berbahaya itu. Ban gokart kami mengeluarkan suara gesekan yg amat keras. Terasa badan kendaraan ini mulai bergeser tidak terkendali. Sekilas, dr sudut mata saya masih melihat si pengemudi di depan gokart saya terkejut melihat ada musuh di belakangnya mencoba melewatinya di tikungan dg kecepatan gila-gilaan. Tiga menit kemudian kami melewati garis finish di urutan kelima.
Ya, kami berhasil mengalahkan pesaing kami. Semuanya terlihat begitu indah dan memuaskan bagi saya. Namun, semua berubah ketika saya menengok kepada adik saya. Harapan mendengarkan pujian atau kebanggaan dr keasyikan yg kita alami itu lenyap seketika. Wajah adik saya pucat pasi!.
Saya baru sadar. "Adikku, Maafkan Abangmu ini!"
Ternyata, kami berbeda. Apa yg dirasakan laki-laki sebagai sesuatu yg hebat, ternyata berbeda dg yg dirasakan perempuan. Ibu saya pun menyatakan ketidaksukaannya terhadap tindakan saya. Saya merasa bersalah, saya pun tidak menyalahkan mereka kalau mereka bakal tak mau lagi naik mobil dengan sopir seperti saya.
Saya ingat apa yg disampaikan John Gray. Perempuan membutuhkan perhatian, dan laki-laki membutuhkan kepercayaan. Perempuan membutuhkan pengertian, laki-laki membutuhkan penerimaan. Perempuan membutuhkan rasa hormat, laki-laki membutuhkan penghargaan. Perempuan membutuhkan kesetiaan, laki-laki membutuhkan kekaguman. Perempuan membutuhkan penegasan, laki-laki membutuhkan persetujuan. Perempuan perlu jaminan, dan laki-laki perlu dorongan.
Saya tdk yakin apakah pendapat John Gray benar semuanya. Tapi, harus saya akui bahwa --paling tidak-- ada sebuah kesimpulan yg dapat saya ambil, kita berbeda. Itulah yg membuat laki-laki sering tdk paham dg perempuan karena kita memahami perempuan dg pemahaman jenis mereka.
Jadi, untuk mulai memahami perempuan, kita harus mulai dg mengenal akar-akar perbedaan laki-laki dan perempuan. Di lingkungan kita, sering terjadi kesalahan dlm memahami perbedaan versi Islam. Perbedaan sering disalahartikan dengan perbedaan kemuliaan --biasanya dg mengatakan laki-laki lebih mulia daripada perempuan. Banyak pula yg sembrono mengatakan bahwa Islam itu bukan agama kaum perempuan.
Sebagai Muslim, saya heran sekaligus jengkel mendengar selentingan-selentingan bahwa Islam itu merendahkan derajat dan selalu merugikan perempuan. Mungkin perlu dikatakan di dekat telinga mereka bahwa Islam lahir di tengah masyarakat yg punya hobi mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Agama Islam yg pertama kali tampil membela bayi-bayi perempuan itu. Islam mengatur bahwa laki-lakilah yg wajib mencari nafkah dan memberi mahar nikah, bukan sebaliknya. Islam mengatur bahwa bagian warisan laki-laki dipergunakan untuk memberi nafkah, sedangkan bagian perempuan untuk dirinya sendiri. Lalu, bagian mana dari Islam yg merugikan perempuan?
Izinkan saya mengutarakan nasihat Imam syahid Hasan alBana, "Pada saat kaum perempuan dikategorikan sebagai komoditi yg diperjualbelikan, Islam datang untuk memuliakan dan mengangkat harkat martabat mereka, memelihara hak-hak dan kehormatannya. Islam membolehkan berjual beli, sewa-menyewa, bersedekah, dan berbuat selayaknya bagaimana org yg merdeka. Demikian keadilan terhadap kaum perempuan diberikan oleh Islam. Siapa yg mengatakan bahwa Islam merendahkan harkat kaum perempuan, tentulah ia orang yg tidak mengerti apa-apa tentang Islam".
Bagaimana bisa dikatakan Islam merendahkan kaum perempuan, sedangkan Allah SWT berfirman, "...Dan kaum perempuan itu memiliki hak yg seimbang dg kewajibannya menurut cara yg ma'ruf.." [QS. Al-Baqarah:228]
Kadang saya mulai berpikir agak nakal, bukankah laki-laki yg seharusnya merasa dirugikan? Lewajiban berbakti kepada Ibu [Perempuan] disebutkan tiga kali, baru setelah itu Bapak. Surga ada di telapak kaki Ibu, sedangkan di telapak kaki laki-laki tidak ditemukan apa-apa. Dalam Al-quran ada surah An-Nisaa (perempuan) dan tidak ditemukan satu pun surah Ar-Rijaal (laki-laki).
Tentu saja pikiran nakal ini lahir dr kebodohan saya semata. Sebagai muslim, saya selalu memegang sebuah prinsip bahwa jika ada sesuatu dalam ajaran Islam yg kita lihat tidak adil, tidak bijaksana, ataupun tidak baik, bukan ajarannya yg jadi masalah, melainkan kita sendiri yg kurang paham atau kurang pengetahuan tentangnya. Dari sini, saya mulai tertarik untuk belajar tentang perempuan, terutama tentang akar-akar perbedaan laki-laki dan perempuan.
"Karena Engkau Perempuan"